Assalamualaikum. wr. wb. Miris sekarang kita lihat anak zaman yang tak mampu untuk melawan berkembangnya zaman yang modern ini yang telah dihamtam oleh teknologi super canggi hingga kita lalai akan urusan akhirat, padahal kita sudah terlalu banyak diberikan nikmat yang tidak dapat kita hitung satu persatu sangat pasti dan yakin anda dan saya tidak bisa menghitungnya , tetapi kenapa kita masih lalai dengan urusan akhirat? Padahal Akhirat itulah yang kekal....
Aqidah akan tercermin dari pandangan hidup manusia dan bagaimana cara manusia itu hidup. Dalam tuntunan Islam, orang-orang yang memiliki aqidah yang lurus memiliki salah satu sifat yang disebut “zuhud”. Istilah zuhud punya kaitan erat dengan istilah “hubbud dun’ya”.
Read Article
Aqidah akan tercermin dari pandangan hidup manusia dan bagaimana cara manusia itu hidup. Dalam tuntunan Islam, orang-orang yang memiliki aqidah yang lurus memiliki salah satu sifat yang disebut “zuhud”. Istilah zuhud punya kaitan erat dengan istilah “hubbud dun’ya”.
Apa itu zuhud dan apa itu hubbud dun’ya ? Jawaban singkatnya: Hubbud dun’ya adalah cinta manusia kepada dunia lebih daripada cintanya kepada Allah swt. Sementara zuhud adalah sifat yang sebaliknya.
Dalam Al-Qur’an perumpamaan kehidupan duniawi adalah sebagai berikut:Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. (QS. Yunus (10) Ayat 24).
Dalam ayat tersebut manusia diajak dan diajarkan untuk berpikir. Tujuan dari ajakan dan ajaran tersebut adalah agar manusia memberikan perhatian yang utama kepada tuntunan Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an. Tuntunan-tuntunan itulah yang disebut “ilmu”. Beberapa ulama bahkan menjelaskan bahwa hanya disebut ilmu apabila pengetahuan yang dimiliki manusia itu bisa mengantarkannya kepada sifat zuhud.
Bagaimana jika kita menolak ajakan dan ajaran tersebut ? Dalam tuntunan Islam, merujuk pada kisah kaum Nabi-Nabi terdahulu, dijelaskan bahwa orang-orang yang sudah diajak dan diajarkan tetapi tidak mengikuti, disebut sebagai orang-orang yang sombong. Dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya. (QS. Al – A’raaf (7) Ayat 146).
Sebagai catatan, dalam Tafsir Al-Azhar oleh Buya Hamka dijelaskan bahwa turunnya ayat ini adalah sebagai pelajaran bagi kaum Nabi Muhammad saw atas sifat kaumnya Nabi Musa as, khususnya terkait dengan kesombongan Fir’aun. Dari ayat tersebut, sudah jelas dapat kita pahami bahwa orang-orang yang sombong adalah orang-orang yang enggan untuk memperhatikan ayat-ayat Qur’an. Selanjutnya kita diperingatkan bahwa keengganan tersebut menjadi salah satu sebab jin dan manusia akan ditransfer ke neraka setelah selesai berlaga di dunia. Mari kita perhatikan ayat berikut:
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al – A’raaf (7) Ayat 179).
Dalam tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sombong adalah sifat takabur kepada ilmu Allah swt. Merasa ilmu-ilmu yang lain lebih penting dan lebih benar dibanding ilmu-ilmu Islam. Namun ada hal-hal tertentu yang tidak dikategorikan sebagai sifat sombong, yaitu meninggikan ilmu Islam. Ia menceritakan bahwa Imam Malik pernah diminta menghadap kepada Khalifah Muawiyah, untuk menerangkan tuntunan Islam. Saat datang utusan Khalifah menyampaikan maksud tersebut, beliau berkata “Ilmu itu didatangi bukan mendatangi”. Maksud dari kalimat itu adalah jika anda ingin mendapatkan ilmu maka andalah yang selayaknya mencari dan menemui, bukan anda menunggu dan memerintahkan agar ilmu itu datang kepada anda. Pada akhirnya Khalifah Muawiyah datang ke rumah Imam Malik yang kalah megah dibanding Istana Khalifah untuk belajar disana.
Apakah anda yakin masuk syurga????
Sekarang saya akan membahas tentang fenomena moral remaja zaman sekarang termasuk ana juga...
Moral adalah suatu tata cara atau tingkah laku baik dan buruk seseorang berdasarkan pandangan hidup dan agamanya. Moral itu sangat penting bagi setiap orang maupun setiap bangsa. Mengapa penting? Karena apabila moral bangsa hancur, maka akan hancurlah bangsa. Bangsa yang memperhatikan moral maka akan hilang kententraman di dalamnya. Namun dewasa ini kebanyakan orang cenderung mengabaikan perilaku yang mencerminkan sikap bermoral. Karena moral tercermin pada perbuatan-perbuatan masyarakat itu sendiri khususnya para remaja sebagai generasi penerus suatu negara. Dengan merosotannya moral bangsa tersebut tentunya perlu adanya perbaikan dan juga koreksi bagi Negara ini.
Moral bangsa saat ini tak lagi sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Dapat kita lihat dari contoh tawuran antar pelajar. Kekerasan dengan cara tawuran sudah menjadi hal biasa bagi setiap remaja untuk memecahkan suatu masalah. Hal ini seolah-olah menjadi bukti bahwa mirisnya moral bangsa yang sekarang tak lagi dicerminkan. Para pelajar yang katanya mempunyai pendidikan yang baik pun juga dapat melakukan hal-hal yang bersifat anarkis, premanis, dan rimbanis.
Tentu saja perilaku ini buruk, yang dirugikan bukan hanya orang yang terlibat tetapi juga dapat merugikan orang lain yang ada disekitar tempat tawuran tersebut. Contoh lain yaitu demo mahasiswa yang dilakukan secara anarkis. Sikap yang dilakukan para mahasiswa ini juga kurang baik, karena sebagai seorang mahasiswa seharusnya menyampaikan pendapat ataupun kritik harusnya denga cara yang baik. Karena kemarahan yang dirasakan oleh mereka bukan terhadap warga atau masyarakatnya tetapi kepada pemerintahan. Tetapi sikap yang dilakukan oleh mereka ialah memblokade jalan yang mengakibatkan menjadi macet. Selain itu, fasilitas umum yang telah mereka rusak itu sebenarnya tidak telalu berpengaruh terhadap tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah. Mengapa demikian? karena pemerintah menggunakan anggaran Negara untuk mengganti fasilitas yang telah rusak tadi yang diambil dari uang rakyat yang telah dibayarkannya, seperti membayar pajak. Dengan demikian kita harusnya memikirkan dahulu sikap atau perilaku yang akan kita lakukan saat akan menyampaikan pendapat terhadap pemerintah. Sehingga orang lain pun yang tidak dirugikan.
Sedangkan dari sisi lain dapat dilihat dari cara berpakaian remaja masa kini. Remaja mempunyai berbagai cara untuk mendapatkan simpati atau perhatian dari lawan jenis. Beberapa cara yang mereka lakukan yaitu dimulai dari pakaian menjadi serba mini bagi remaja wanita. Cara berpakaian ini cenderung banyak disukai oleh kalangan wanita. Tampilan cara berpakaian yang dikenankan remaja sangat bergantung terhadap mode yang sedang tenar. Penampilan mereka ini berbanding terbalik dengan kepribadian bangsa Indonesia. Sebagai remaja yang beradap, tentunya kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan kesantunan dalam berpakaian. Bukan dengan cara tersebut yang tidak seharusnya patut kita lakukan, seharusnya kita tidak merusak kepribadiab bangsa sendiri. Bangsa yang bermoral adalah bangsa yang menjaga moral bangasanya sendiri. Sebagai generasi muda sekaligus sebagai generasi penerus bangsa mempunyai kesadaran akan sikap yang dapat menjaga dan berperilaku moral. Karena dengan begitu para generasi penerus bangsa dapat memiliki kepribadian dan moral yang baik. Sehingga kita mempunyai generasi penerus yang baik juga.
Banyak kasus yang telah terjadi dizaman modern ini hamil diluar nikah, apa ini termasuk tanda tanda kiamat? kenapat tidak ada lagi rasa takut kepada Allah padahal Allah selalu mengawasi kita.marilah sahabat kita kuatkan iman dan takwa kita.
cara mengantisivasinya
Faktor-faktor Penyebab Timbulnya
Perilaku Menyimpang Pada Remaja
mengatasi permasalahan tersebut diatas,
tampak harus segera dirumuskan. ... moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan
peraturanya. Namun biasanya pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri.
Karen pengawasan masyarakat itu datang dari luar, jika orang luar tidak tahu, atau tidak ada orang yang
disangka akan mengetahuinya, maka dengan senang hati orang itu akan berani melanggar peraturan-peraturan dan
hukum-hukum sosial itu. Dan apabila dalam masyarakat itu banyak ornag yang melakukuan pelanggaran moral,
dengan sendirinya or ... manusia dan sebagainya tampaknya belum menunjukan kemauan yang
sungguh-sunguh untuk melakuka pembinaan moral bangsa. Hal yang demikian
semaikin diperparah lagi oleh adanya ulah sebagian elit penguasa yang
semata-mata mengejar kedudukan, peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara tidak mendidik,
seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini belum adanya tanda-tanda untuk hilang.
Mereka asik memperebutkan kekuasaan, mareri dan sebagainya dengan cara-cara tidak terpuji itu, dengan ... semakin
jauhnya masyarakat dari agama, semakin sudah memelihara moral orang dalam masyarakat itu, dan
semakin kacaulah suasana, karena semakin banyak pelanggaran-pelanggaran, hak, hukum dan nilai moral.
Kedua, kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan
oleh rumahtangga, sekolah maupun masyarakat. Pembinaan moral yang dilakukan
oleh ketiga
institusi ini tidak berjalan menurut
semsetinya atau yang sebiasanya. Pembinaan moral dirumah tangga misalnya harus dilakukan dari sejak anak
masih k ...
Banyak faktor yang menyebabkan
timbulnya prilaku menyimpang dikalangan para remaja. Di antaranya adalah sebagai berikutPertama, longgarnya
pegangan terhadap agama .Sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala
sesuatu hampir dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan
beragam mulai terdesak, kepercayaan
kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan suruhan-suruhan Tuhan tidak
diindahkan
lagi. Dengan longgarnya pegangan
seseorang peda ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam dirinya. Dengan demikian
satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan
peraturanya. Namun biasanya pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri.
Karen pengawasan masyarakat itu datang dari luar, jika orang luar tidak tahu, atau tidak ada orang yang
disangka akan mengetahuinya, maka dengan senang hati orang itu akan berani melanggar peraturan-peraturan dan
hukum-hukum sosial itu. Dan apabila dalam masyarakat itu banyak ornag yang
melakukuan pelanggaran moral, dengan sendirinya orang yangkurang iman tadi
tidak akan mudah pula meniru
melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sama.Tetapi jika setiap orang teguh
keyakinannya kepada Tuhan serta menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak
perlu lagi adanya pengaewasan yang ketat, karena
setiap orang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, tidak mau melanggar
hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Tuhan.
Sebaliknya dengan semakin jauhnya masyarakat dari agama, semakin sudah memelihara moral orang ...
Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Perilaku
Menyimpang Pada Remaja
Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya prilaku menyimpang dikalangan para remaja. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, longgarnya pegangan terhadap agama . Sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu hampir dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan beragam mulai terdesak, kepercayaan kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan suruhan-suruhan Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan seseorang peda ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Namun biasanya pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri. Karen pengawasan masyarakat itu datang dari luar, jika orang luar tidak tahu, atau tidak ada orang yang disangka akan mengetahuinya, maka dengan senang hati orang itu akan berani melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum sosial itu. Dan apabila dalam masyarakat itu banyak ornag yang melakukuan pelanggaran moral, dengan sendirinya orang yangkurang iman tadi tidak akan mudah pula meniru melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sama.Tetapi jika setiap orang teguh keyakinannya kepada Tuhan serta menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengaewasan yang ketat, karena setiap orang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, tidak mau melanggar hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Tuhan. Sebaliknya dengan semakin jauhnya masyarakat dari agama, semakin sudah memelihara moral orang dalam masyarakat itu, dan semakin kacaulah suasana, karena semakin banyak pelanggaran-pelanggaran, hak, hukum dan nilai moral.
Kedua, kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumahtangga, sekolah maupun masyarakat.Pembinaan moral yang dilakukan oleh ketiga institusi ini tidak berjalan menurut semsetinya atau yang sebiasanya. Pembinaan moral dirumah tangga misalnya harus dilakukan dari sejak anak masih kecil, sesuai dengan kemampuan dan umurnya. Karena setiap anak lahir, belum mengertyi man auang benar dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang tidak berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dibiasakan menanamkan sikap yang dianggap baik untuk manumbuhkan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal moral itu. Pembinaan moral pada anak dirumah tangga bukan dengan cara menyuruh anak menghapalkan rumusan tentang baik dan buruk, melainkan harus dibiasakan. Zakiah Darajat mangatakan, moral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral dari sejak keci. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak sebaliknya. Seperti halnya rumah tangga, sekolahpun dapat mengambil peranan yang penting dalam pembinaan moral anak didik. Hendaknya dapat diusahakan agar sekolah menjadi lapangan baik bagi pertumuhan dan perkembangan mental dan moral anak didik. Di samping tempat pemberian pengetahuan, pengembangan bakat dan kecerdasan. Dengan kata lain, supaya sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak-anak, dimana pertumbuhan mantal, moral dan sosial serta segala aspek kepribadian berjalan dengan baik. Untuk menumbuhkan sikap moral yang demikian itu, pendidikan agama diabaikan di sekolah, maka didikan agama yang diterima dirumah tidak akan berkembang, bahkan mungkin terhalang. Selanjutnya masyarakat juga harus mengambil peranan dalam pembinaan moral. Masyarakat yanglebih rusak moralnya perelu segera diperbaiki dan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat dengan kita. Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan moral anak-anak. Terjadinya kerusakan moral dikalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana disebutakan diatas, karena tidak efektifnnya keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan moral. Bahkan ketiga lembaga tersebut satu dan lainnya saling bertolak belakang, tidak seirama, dan tidak kondusif bagi pembinaan moral.
Ketiga, dasarnya harus budaya materialistis, hedonistis dan sekularistis.Sekarang ini sering kita dengar dari radio atau bacaan dari surat kabar tentang anak-anak sekolah menengah yang ditemukan oleh gurunya atau polisi mengantongi obat-obat, gambar-gambar cabul, alat-alat kotrasepsi seperti kondom dan benda-banda tajam. Semua alat-alat tersebut biasanya digunakan untuk hal-hal yang dapat merusak moral. Namun gajala penyimpangan tersebut terjadi karena pola hidup yang semata-mata mengejar kepuasan materi, kesenangan hawa nafsu dan tidak mengindahkan nilai-nilai agama. Timbulnya sikap tersebut tidak bisa dilepaskan dari derasnya arus budaya matrealistis, hedonistis dan sekularistis yang disalurkan melalui tulisan-tulisan,bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, pertunjukan-pertunjukan dan sebagainya. Penyaluran arus budaya yang demikian itu didukung oleh para penyandang modal yang semata-mata mengeruk keuntungan material dan memanfaatkan kecenderungan para remaja, tanpa memperhatikan dampaknya bagi kerusakan moral. Derasnya arus budaya yang demikian diduga termasuk faktor yang paling besar andilnya dalam menghancurkan moral para remaja dan generasi muda umumnya.
Keempat, belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Pemerintah yang diketahui memiliki kekuasaan (power), uang, teknologi, sumber daya manusia dan sebagainya tampaknya belum menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk melakuka pembinaan moral bangsa. Hal yang demikian semaikin diperparah lagi oleh adanya ulah sebagian elit penguasa yang semata-mata mengejar kedudukan, peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara tidak mendidik, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini belum adanya tanda-tanda untuk hilang. Mereka asik memperebutkan kekuasaan, mareri dan sebagainya dengan cara-cara tidak terpuji itu, dengan tidak memperhitungkan dampaknya bagi kerusakan moral bangsa. Bangsa jadi ikut-ikutan, tidak mau mendengarkan lagi apa yang disarankan dan dianjurkan pemerintah, karena secara moral mereka sudah kehiangan daya efektifitasnya.<br>Sikap sebagian elit penguasa yang demikian itu semakin memperparah moral bangsa, dan sudah waktunya dihentikan. Kekuasaan, uang, teknologi dan sumber daya yang dimiliki pemerintah seharusnya digunakan untuk merumuskan konsep pembinaan moral bangsa dan aplikasinya secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan. Itulah diantara faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kemerosotan moral bangsa. Dan bagaimanakah stertegi pendidikan agama dan moral yang efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas, tampak harus segera dirumuskan.
semoga artikel ini bermamfaat,amin Assalamualaikum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar